pexels photo 1057025
Blog posts | Featured

Corona Confinements Trigger Divorces

By Tania, Janda Becanda

How close quarters confinements in quarantine reveal fragility in many relationships.

The Cerai Bandung this week from Bandung, West Java, is of the rise of people filing for divorce at the religious courts. Has quarantine during this Covid-19 pandemic triggered the upward flux of divorce cases. Is it happening just here in Indonesia? Turns out this is a worldwide trend happening also in China and in the US.

What is the pandemic really revealing? Is it domestic abuse? Increased domestic abuse cases are reported in the US.  Plain incompatibility? Economic hardship? Pressures of homeschooling? Untenable conditions for working from home? Compromised mental health? All of the above?

Have the limits been stretched so far beyond what is acceptable within relationships?

Perhaps what the pandemic is revealing is the problems that existed beforehand though now under the pressures of quarantine confinements those problem areas become more strained and heightened. It is exhausting for any marriage to manage the balances of family responsibilities, household chores, parenthood, work duties without the added burden of staying at home, dwindling savings and income and rising precariousness. As the months roll by with no clear end of timeline the stress increases and the family unit bears the hardest hit of that pressure. It is no surprise then to hear of the rising cases of divorces as reported out of Bandung. Perhaps more of that news to come.

What are then the steps to take for marriages to survive under such challenge put upon the unprecedented pandemic? The work that was needed to be done before for relationships to survive and thrive. Open lines of communications between wife and husband. Honest and caring communication of expectations from each other. There needs to be a concerted effort from family members to be patient, kind, helpful and loving attention towards one another. This is how you keep the peace. Peace within the family and peace of mind within yourself.

But how to avoid the conflict when there’s literally no room to go into the confined spaces of a shared home?
Bedroom, kitchen, living room, garage, closet, terrace, balcony, car, laundry room, kids’ bedrooms. There’s only so many hiding place. Wherever I go, there I am, (and apparently my family, too.)

There is always the space to go deep within you that is free and without limits. Remember those breathing exercises that you are now so good at practicing intentionally when you feel the tension rising.

Journaling daily to let out any angsts lingering from the day, even if only a sentence or two. At the end of each day write down at least three things you are grateful for, things that make you happy and the things you will do the next day that will absolutely make you more fulfilled.

Meditate, even if only for 15 minutes. Front load this activity earlier in the day. Even better if you can do it first thing in the morning to ensure that helps you to be in the right set of mind.

Tell the one you love how much they mean to you, hold their hands, hug them. We cannot underestimate the importance of small human connections to help alleviate the stresses of quarantine.

Pandemi Corona Memicu Perceraian

By Tania, Janda Becanda

Ketika karantina mengekspos kerapuhan yang ada dalam pernikahan.

 

pexels photo 3692885
Tension escalates in marriages during Corona quarantine

Berita utama minggu ini datang dari Bandung, Jawa Barat, adalah meningkatnya jumlah orang yang mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama. Apakah yang telah terjadi akibat pandemic Covid-19? Benarkah pandemi ini telah memicu jumlah kasus perceraian? Apakah ini hanya terjadi di Indonesia atau di tempat lain juga? Cina? AS?
Apa yang terbongkar dengan berlangsungnya pandemic? Apakah itu KDRT? Ketidak cocokan antara pasangan? Kesulitan keuangan Rumah Tangga? Tekanan untuk mengurus anak-anak yang bersekolah dari rumah? Keletihan bekerja dari rumah? Kesehatan Mental yang sudah terganggu? Atau semua alasan-alasan ini?

Apakah batas kewajaran dalam sebuah rumah tangga sudah dipaksa sampai batas yang kelewatan?

Mungkin pandemi ini mengungkapkan masalah-masalah yang sudah ada dari sebelumnya dan sekarang makin tegang dan meningkat dengan harusnya terus menerus tinggal di rumah. Memang melelahkan bagi rumah tangga manapun untuk menjaga keseimbangan dalam tanggung jawab keluarga, pekerjaan rumah tangga, mengurus anak-anak, dan juga pekerjaan kantor tanpa terlebih lagi beban harus terus tinggal di rumah, tabungan menipis dan keamanan pekerjaan yang terancam karena situasi pandemic. Berbulan-bulan berjalan tanpa ada gambaran kapan masalah penyebaran virus ini akan berakhir. Tidak mengherankan mendengar berita meningkatnya kasus perceraian di Bandung. Mungkin akan lebih banyak lagi berita serupa akan menyusul.

Kalau gitu apa yang bisa dikerjakan untuk suatu pernikahan untuk menyiasati masalah yang ada ini dan berhasil menjaga kelanggengan pernikahan semasa karantina? PR yang sudah wajib dilakukan sebelum jaman Corona terlebih lagi mesti dilakukan sekarang. Komunikasi yang lancar antara suami-istri, berbasis dalam kasih sayang dan kejujuran. Memang harus ada kesadaran dari tiap anggota keluarga untuk menjaga hubungan yang mengasihi dan berdamai dengan cara lebih bersabar, saling membantu dan mengasihi. Ini caranya untuk bisa berdamai. Menjagai damai dalam keluarga dan juga dalam diri kita sendiri.

Tapi bagaimana caranya untuk menghindari konflik ketika lahan rumah terasa menyempit dengan adanya karantina.
Kamar tidur, dapur, ruang tamu, garasi, ruang Gudang, teras, balkoni, mobil, ruang cuci, kamar anak-anak. Tidak banyak tempat bersembunyi. Kemanapun aku pergi, di situlah aku (dan juga keluargaku ternyata).

Ada satu ruang di mana kita bisa selalu pergi dan mendapatkan kebebasan dan ketenangan tanpa batas yaitu dalam diri kita. Jangan lupa semua latihan pernapasan yang kita sudah pelajari dan perlukan untuk momen-momen tegang seperti ini.

Tulislah dalam jurnal tiap hari untuk melepas ketegangan dalam harimu, walau hanya satu atau dua kalimat. Di penghujung hari, tuliskan setidaknya tiga hal yang kau syukuri, hal yang membuatmu bahagia, dan juga hal yang akan kau kerjakan keesokan hari untuk membuatmu merasa puas dan tenang.

Meditasi, walau hanya 15 menit dalam sehari. Kerjakan ini di pagi hari kalau bisa supaya pikiran lebih tenang dan bisa berfokus lebih tajam.

Jangan lupa katakan pada orang yang kau cintai betapa berharganya mereka dalam hidupmu, pegang tangan mereka, peluklah mereka. Kita tidak bisa mengecilkan pentingnya hubungan antara manusia untuk mengurangi rasa stress dalam karantina.

Similar Posts

Leave a Reply